Carilah Rezeki Kalian dengan Cara Yang Halal dan Baik

Inilah Alasan Mengapa Mencari Rezeki Harus dengan Cara Yang Halal lagi baik.

Adalah Rosululloh SAW bersabda ;

“Carilah dunia (rezeki) dengan cara yang baik karena sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuatu (dari dunia) sesuai dengan apa yang telah dituliskan untuknya.”

Maksudnya, carilah rezeki kalian dengan cara yang baik, berusahalah mendapatkan bagian dari rezeki kalian yang telah ditakdirkan tanpa mendesak, tanpa melelahkan diri kalian berlebihan, tanpa berkelahi satu sama lain, dan tanpa merasa khawatir rezeki kalian akan jatuh ke tangan orang lain.

Imam Zamakhsyari RH berkata,

Orang yang mencari rezeki hendaklah ia mencari dengan cara yang baik, tidak ambisius, dan juga tidak terburu-buru. Sebab, kenikmatan, keuntungan, dan reputasi dunia tidak akan langsung menghampirinya.”

Mencari rezeki tanpa ambisius, tanpa khawatir, tanpa melalui jalan yang buruk, tanpa kehilangan akal sampai melupakan Rabbnya, dan tanpa jatuh ke dalam keadaan syubhat juga sesuai dengan maksud hadis yang disebutkan. Sesungguhnya Allah SWT berfirman dalam surat An-Nur ayat 37

 

رِجَا لٌ لَّا تُلْهِيْهِمْ تِجَا رَةٌ وَّلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ وَاِ قَا مِ الصَّلٰوةِ وَ اِيْتَآءِ الزَّكٰوةِ ۙ يَخَا فُوْنَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيْهِ الْقُلُوْبُ وَا لْاَ بْصَا رُ ۙ
rijaalul laa tul-hiihim tijaarotuw wa laa bai’un ‘ang zikrillaahi wa iqoomish-sholaati wa iitaaa`iz-zakaati yakhoofuuna yaumang tataqollabu fiihil quluubu wal-abshoor

“orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual-beli dari mengingat Allah, melaksanakan sholat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari Kiamat),”
(QS. An-Nur 24: Ayat 37)

Baca juga : bayar zakat

Bahwasanya Allah SWT yang  telah menakdirkan dan membagikan rezeki kepada setiap manusia. Dengan ilmu azali Allah SWT, rezeki tidak datang lebih cepat atau lambat, tidak berkurang atau pun bertambah.

Meskipun seorang manusia mengetahui bahwa segala sesuatu yang telah ditakdirkan untuknya tidak datang terlambat atau pun datang lebih awal, dia tidak boleh berhenti berusaha dan bekerja karena sesungguhnya setiap peristiwa yang terjadi tergantung sebabnya yang merupakan sunatullah.

Walaupun Allah SWT mampu menghilangkan rasa lapar dan haus manusia tanpa bergantung pada suatu sebab apa pun, pada dasarnya hikmah Ilahi tetap bergantung pada sebab-sebab tertentu, seperti makan agar kenyang, dan minum untuk menghilangkan dahaga.

Dengan demikian, dalam hadis disebutkan,

“Carilah rezeki dengan cara yang baik!” untuk memberitahukan ketergantungan segala sesuatu dengan sebuah sebab, seperti berusaha dengan tulus dan menggapai sesuatu dengan usaha yang baik.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya orang yang meminta dunia dan mengharapkannya dengan keinginan yang berlebihan, berarti dia telah menyibukkan dirinya dengan sesuatu yang sama sekali tidak memberikan kepentingan apa pun dan membuat dirinya lelah dengan sesuatu yang tidak bermanfaat. Padahal, sesuatu yang akan didapatkannya tidak akan lebih dari yang sudah ditakdirkan untuknya. Maka dari itu, orang yang beradab harus menyerahkan segala urusannya kepada Allah SWT, berserah diri kepada-Nya, tidak melampaui batas, dan tidak berani untuk melakukan dosa. (Faidhul Qadir)

Sumber : FAZİLET TAKVİMİ 08 Maret 2020, Minggu

Berikut Dasar hukum dalam Alquran tentang Carilah Rezeki Kalian dengan Cara Yang Halal dan baik.

1.Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَكُلُوْا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللّٰهُ حَلٰلًا طَيِّبًا ۖ وَّ اتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْۤ اَنْـتُمْ بِهٖ مُؤْمِنُوْنَ
wa kuluu mimmaa rozaqokumullohu halaalang thoyyibaw wattaqullohallaziii angtum bihii mu`minuun

“Dan makanlah dari apa yang telah diberikan Allah kepadamu sebagai rezeki yang halal dan baik, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 88)

 2.Allah subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَكُلُوْا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللّٰهُ حَلٰلًا طَيِّبًا ۖ وَّا شْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ اِنْ كُنْـتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ
fa kuluu mimmaa rozaqokumullohu halaalang thoyyibaw wasykuruu ni’matallohi ing kungtum iyyaahu ta’buduun

“Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.”
(QS. An-Nahl 16: Ayat 114)

3.Allah subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ الطَّيِّبٰتِ وَا عْمَلُوْا صَا لِحًـا ۗ اِنِّيْ بِمَا تَعْمَلُوْنَ عَلِيْمٌ ۗ
yaaa ayyuhar-rusulu kuluu minath-thoyyibaati wa’maluu shoolihaa, innii bimaa ta’maluuna ‘aliim

“Allah berfirman, Wahai para rasul! Makanlah dari (makanan) yang baik-baik, dan kerjakanlah kebajikan. Sungguh, Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Mu’minun 23: Ayat 51)

 

Diriwayatkan dari Abu Hurairah z, Rasulullah n bersabda:

إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ: {ﮡ ﮢ ﮣ ﮤ ﮥ ﮦ ﮧﮨ ﮩ ﮪ ﮫ ﮬ } وَقَالَ: {ﭽ ﭾ ﭿ ﮀ ﮁ ﮂ ﮃ ﮄ} ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلىَ السَّمَاءِ: يَا رَبِّ، يَا رَبِّ؛ وَمَطَعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَام، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

“Sesungguhnya Allah Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik, dan sungguh Allah perintahkan mukminin dengan apa yang Allah perintahkan kepada para Rasul,

Maka Allah berfirman:

Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan’

dan berfirman:Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu.’ Lalu Nabi n menyebutkan seseorang yang melakukan perjalanan panjang, rambutnya kusut masai, tubuhnya berdebu, ia menengadahkan tangannya ke langit seraya berucap:

‘Wahai Rabbku, wahai Rabbku.’ Akan tetapi makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, disuapi gizi yang haram, bagaimana mungkin doanya terkabul?”
(HR. Muslim dan At-Tirmidzi)

 

Dari Abdullah bin Amr c, bahwa Rasulullah n bersabda:

أَرْبَعٌ إِذَا كُنَّ فِيْكَ فَلاَ عَلَيْكَ مَا فَاتَكَ مِنَ الدُّنْيَا: حِفْظُ أَمَانَةٍ، وَصِدْقُ حَدِيْثٍ، وَحُسْنُ خَلِيْقَةٍ، وَعِفَّةٌ فِي طَعْمَةٍ

“Empat perkara bila keempatnya ada padamu maka tidak mengapa apa yang terlewatkanmu dari perkara duniawi: menjaga amanah, ucapan yang jujur, akhlak yang baik, dan menjaga (kehalalan) makanan.”

(Shahih, HR. Ahmad dan Ath-Thabarani dan sanad keduanya hasan, Shahih At-Targhib no. 1718)

Ath-Thabarani t juga meriwayatkan dari Abu Thufail dengan lafadz:

مَنْ كَسَبَ مَالاً مِنْ حَرَامٍ فَأَعْتَقَ مِنْهُ وَوَصَلَ مِنْهُ رَحِمَهُ كَانَ ذَلِكَ إِصْرًا عَلَيْهِ

“Barangsiapa mendapatkan harta yang haram lalu ia membebaskan budak darinya dan menyambung silaturrahmi dengannya maka itu tetap menjadi beban atasnya.”
(Hasan lighairihi. Shahih Targhib, 2/148 no. 1720)

Dari Al-Qasim bin Mukhaimirah z ia berkata bahwa Rasulullah n bersabda:

مَنِ اكْتَسَبَ مَالًا مِنْ مَأْثَمٍ فَوَصَلَ بِهِ رَحِمَهُ أَوْ تَصَدَّقَ بِهِ أَوْ أَنْفَقَهُ فِي سَبِيلِ اللهِ، جَمَعَ ذَلِكَ كُلَّهُ جَمِيعًا فَقُذِفَ بِهِ فِي جَهَنَّمَ

“Barangsiapa mendapatkan harta dengan cara yang berdosa lalu dengannya ia menyambung silaturrahmi atau bersedekah dengannya atau menginfakkannya di jalan Allah, ia lakukan itu semuanya maka ia akan dilemparkan dengan sebab itu ke neraka jahannam.”

(Hasan lighairihi, HR. Abu Dawud dalam kitab Al-Marasiil, lihat Shahih At-Targhib, 2/148 no. 1721)

Abdullah bin Mas’ud z juga pernah menyampaikan pesan Rasulullah :

اسْتَحْيُوا مِنَ اللهِ حَقَّ الْحَيَاءِ. قال: قلنا: يَا نَبِيَّ اللهِ، إِنَّا لَنَسْتَحْيِي وَالْحَمْدُ لِلهِ. قَالَ: لَيْسَ ذَلِكَ، وَلَكِنَّ الْاِسْتِحْيَاءَ مِنَ اللهِ حَقَّ الْحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى، وَتَحْفَظَ الْبَطْنَ وَمَا حَوَى، وَتَذْكُرَ الْمَوْتَ وَالْبِلَى، وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ تَرَكَ زِيْنَةَ الدُّنْيَا، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدِ اسْتَحْيَا مِنَ اللهِ حَقَّ الْحَيَاءِ

“Hendaklah kalian malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya.

” Kami (para sahabat) berkata:
“Wahai Nabiyullah, kami punya rasa malu kepada Allah, alhamdulillah.”

Beliau berkata:
“Bukan itu, akan tetapi malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya adalah kamu jaga kepala dan apa yang diliputinya (yakni lisan, mata, telinga), kamu jaga (isi) perutmu (yakni dari yang haram) dan jaga yang bersambung dengannya, kamu ingat kematian dan kehancuran.

Barangsiapa yang menghendaki akhirat tentu dia tinggalkan perhiasan dunia. Siapa saja yang melakukan itu semua, berarti dia telah malu dari Allah dengan sebenar-benarnya.”

(Hasan lighairihi, HR. At-Tirmidzi, Shahih At-Targhib: 2/149 no. 1724)

Mari kita berdoa Agar Rizqi yang kita dapatkan mendapatkan Ridlo dan berkah

بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

  • Ya Allah ya Roobbi …..
    Ampunilah dosa-doa kami, dosa-dosa kedua orang tua kami dan seluruh keluarga besar kami,
  • sahabat-sahabat kami
    Karuniakanlah kami panjang umur yang bermanfaat, keselamatan dan kesehatan yang afiat.
  • Tunjukilah kami jalan yang baik dan benar ….l
  • Berilah petunjuk dan taufikMu. Bimbinglah kehidupan kepada kebaikan ….
  • Lapangkanlah hati kami , tentramkan jiwa kami , sehatkan fisik kami
  • Bahagiakan keluarga kami , jadikan anak anak kami yg sholeh sholeha….
  • Luaskan rezeki kami , seluas lautan yang engkau ciptakan ….
  • Mudahkanlah segala urusan kami , kabulkanlah cita-cita , dan harapan kami….,
  • jauhkan dari segala penyakit , fitnah , prasangka keji , berkata kasar dan ….
  • jauhkanlah dari segala musibah , serta terimalah semua amal ibadah dan kelak
    jadikanlah kami sebagai penghuni SyurgaMu

. آَمِيـٍـِـنْ … آَمِيـٍـِـنْ …
آمِــــــــــــــــــينْ يَــارَبَّ الْعَالَمِ

Baca juga : mengapa sedekah bisa membuat kita lebih bahagia

2 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *