Untuk Membasmi DBD Fogging Tidaklah Cukup

header niko 728 x 90

Petugas dari Puskesmas Kebayoran Baru melakukan fogging penanggulangan penyakit demam berdarah dengue (DBD) pada pemukiman warga di Jakarta, Senin (13/4). Selama periode Januari hingga Maret 2015 Pemprov DKI Jakarta mencatat sebanyak 1042 orang terserang DBD dan lima diantaranya meninggal dunia. ANTARA FOTO/Vitalis Yogi Trisna/Rei/pd/15.

InspirasiBersama.com – Tingginya angka penderita DBD di Indonesia akhir-akhir ini membuat banyak masyarakat resah. Hal ini dikarenakan tidak sedikit dari mereka yang terkena virus DBD berujung pada kematian. DBD merupakan jenis penyakit yang ditularkan oleh nyamuk Aedes yang membawa virus dengue. Untuk itu pemerintah harus lebih banyak melakukan ‘fogging’ untuk membasmi nyamuk Aedes. Namun terus bertambahnya penderita DBD menunjukkan bahwa untuk membasmi DBD fogging saja tidaklah cukup.

Sebenarnya untuk jenis penyakit berbahaya yang ditularkan lewat nyamuk bukan hanya DBD saja. Contoh lain penyakit yang ditularkan lewat gigitan nyamuk adalah kaki gajah (filariasis), chikungunya dan malaria. Semua jenis penyakit tersebut sama berbahyanya dengan DBD.

Baca Juga  Kenapa Keju Cepat Basi Meskipun Sudah Disimpan di Dalam Kulkas?

Tinggi angka penderita penyakit yang ditularkan melalui nyamuk di Indonesia, menunjukkan penanganan penyakit yang telah dilakukan kurang tepat, ungkap seorang konsultan penyakit tropis dan infeksi yang berasal dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang bernama Erni Juwita Nelwan.

Hal itu terbukti bahwa kasus pertama DBD di Indonesia ditemukan pada tahun 1968 dan sampai sekarang ini jumlah penderita DBD tiap tahunnya terus mengalami peningkatan. Bahkan tidak sedikit yang berujung pada kematian.

Sampai saat ini metode yang kita kenal untuk memberantas DBD adalah dengan cara melakukan fogging atau pengasapan. Fogging akan dilakukan oleh pemerintah kepada daerah-daerah yang terindentifikasi penderita DBD.

Baca Juga  Manfaat Pencernaan Yang Sehat Bagi Daya Tahan Tubuh Anak

Menurut para peneliti yang bernama DR. Budi Haryanto, SKM, MSPH, MCc mengatakan metode pemberantasan DBD dengan cara melakukan fogging atau pengasapan merupakan tindakan yang kurang efektif.

Coba kita pikir, tindakan fogging atau pengasapan sering kali dilakukan antara pukul 08.00-12.00 siang. Padahal tahukah kita bahwa nyamuk Aedes akan aktif atau mencari mangsa dengan menghisap darah manusia pada pukul 08.00-11.00 dan pukul 14.00-17.00. Kalau fongging dilakukan pada waktu nyamuk Aedes aktif, maka yang ada nyamuk akan lari dengan kencang menghindari asap dari fogging. Seharusnya lakukan fogging pada saat nyamuk Aedes istirahat jadi sangat efektif untuk membunuhnya.

Baca Juga  Atasi Ketombe Dengan Cara Mudah dan Murah

Sebagai masyarakat yang peduli akan lingkungan, seyogyanya kita tidak menggantungkan diri pada pemerintah dalam pemberantasan nyamuk yang menyebabkan kasus DBD. Kita harus memulai dari lingkungan rumah kita masing-masing untuk selalu menerapkan 3M. Ini adalah sangat penting untuk menghindari pertumbuhan nyamuk Aedes yang sangat berbahaya.

Artikel Terkait : Apa Yang Seharusnya Dilakukan Orang Tua Saat Anaknya Menderita DBD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *