Bagaimana Cara Mendidik Anak Agar Rajin Gosok Gigi ?

InspirasiBersama.com – Mendidik anak untuk rajin gosok gigi memang bukan perkara yang mudah. Kebanyakan anak akan merasa malas saat kita suruh gosok gigi. Lantas bagaimana cara mendidik anak agar rajin untuk gosok gigi ?

sumber gambar : http://buahhati.co.id

Berikut beberapa tips yang bisa bunda praktekkan di rumah aga anak menjadi rajin menggosok gigi :

1. Pasta Gigi Berperisa
Cara pertama adalah dengan menggunakan pasta gigi berperisai dan tentunya menggunakan pasta gigi dengan rasa yang disukai anak. Misalnya saja rasa stroberi atau anggur.

2. Bentuk Sikat Gigi yang Lucu
Cara kedua adalah dengan membelikan sikat gigi dengan bentuk yang lucu. Anda juga bisa memilih jenis sikat gigi yang berwarna-warni yang bisa membuat seorang anak tertarik.

3. Coba Pakai Sikat Gigi elektrik
Cara ketiga coba bunda belikan sikat gigi elektrik yang bisa bergerak sendiri yang akan membuat anak tertarik dan penasaran. Dengan begitu anak akan lebih tertarik untuk mencoba sikat gigi dengan sikat gigi tersebut.

4. Berikan ‘Insentif’ pada Anak

Cara yang ke empat agar anak suka dengan sikat gigi adalah dengan memberikan ‘insenstif’ berupa hadiah yang membuat anak tertarik untuk mau rutin sikat gigi.

5. Lihatkan Video YouTube tentang Sikat Gigi

Cara ke enam mendidik anak agar rajin menggosok gigi adalah dengan memperlihatkan video tentang manfaat dan kerugian gosok gigi. Hal ini dikarenakan jaman sekarang ini banyak kalangan anak-anak yang sudah mengenal gadget dan mengakses YouTube.

6. Carikan Aplikasi Sikat Gigi di Gadget
Karena kecenderungan anak jaman sekarang suka bermain gadget, maka coba dengan memberikan aplikasi sikat gigi. Dengan begitu anak akan berusaha meniru untuk rajin sikat gigi.
Artikel Terkait : Dampak Buruk Sering Memaksa Anak Untuk Makan

Salah Satu Manfaat Anak Bermain di Luar Rumah Bisa Mencegah Memakai Kacamata

InspirasiBersama.com – Perkembangan teknologi yang begitu cepat membuat anak milenial sekarang ini tak lepas dengan bermain di dalam rumah. Hal ini tentu sangat berbeda dengan anak pada jaman dulu yang lebih banyak bermain di luar rumah. Banyak kalangan anak-anak yang sudah kecanduan bermain gadget sehingga aktivitas fisiknya minimal dan lebih suka di dalam rumah dibandingkan dengan bermain bersama teman-temannya.

sumber gambar : http://mimipipi.net

 

Kondisi seperti ini tentu akan  berpengaruh terhadap kesehatan seorang anak salah satunya adalah obesitas dan gangguan mata. Berdasarkan sebuah hasil penelitian menyebutkan bahwa seorang anak yang lebih banyak bermain di dalam rumah lebih beresiko mengalami gangguan mata seperti rabun jauh atau miopia. Anak yang mengalami gangguan penglihatan ini akan merasakan sulit melihat jelas objek yang berada di tempat jauh.

Mungkin kalau kita mengamati sekarang ubu sudah cukup banyak anak yang masih pra sekolah namun sudah mengalami gangguan penglihatan. Mereka biasanya akan menggunakan kaca mata sebagai alat bantu untuk bisa melihat dengan jelas benda-benda yang jauh.
Mengapa anak yang lebih suka bermain di luar rumah cenderung memiliki kesehatan mata yang lebih baik ? Ternyata anak yang suka bermain di luar rumah akan lebih banyak terpapar sinar matahari yang tentunya kaya kandungan vitamin D. Selain itu anak yang suka bermain di luar rumah yang cenderung memiliki pencahayaan lebih terang akan membuat sitomulus terhadap hormon dopamin yang terdapat pada mata. Kondisi ini bisa menghembat terjadinya rabun jauh. Selain itu anak yang suka bermain di luar rumah cenderung akan lebih sering melihat jauh dibandingkan saat di dalam rumah.

Dengan begitu banyaknya manfaat jika anak suka bermain di luar rumah, maka sebaiknya para orang tua selalu mendorong anaknya untuk lebih suka bermain di luar rumah. Selain itu sebaiknya orang tua juga membatasi waktu menggunakan gadget pada anak yang bisa meningkatkan resiko rabun jauh.

Artikel Terkait : Tips Aman Menggunakan Gadget Agar Tidak Merusak Mata

 

Jangan Larang Anak Berhenti Total Makan Gula, Ini Manfaatnya

sumber gambar : http://media.viva.co.id

InspirasIBersama.com – Semua orang setuju kalau konsumsi gula bagi orang dewasa harus dibatasi. Hal ini guna mencegah kenaikan kadar gula dalam darah yang memicu diabetes. Lantas bagaimana dengan anak-anak, apakah juga perlu dibatasi ?

Menurut para pakar kesehatan anak mengatakan bahwa sebaiknya seorang anak usia 3-6 tahun tidak dibatasi dalam mengkonsumsi gula. Hal ini disebabkan karena erat dengan proses tumbuh kembang pada anak.

Pada seorang anak dengan usia 3-6 tahun membutuhkan asupan gula yang sangat mendukung kinerja otak dalam masa tumbuh kembang. Oleh karena itu seorang anak sebaiknya tidak diterapkan diet rendah gula. Berbeda dengan orang dewasa.

Meskipun demikian bukan berarti boleh berlebihan dalam mengkonsumsi gula bagi seorang anak. Seorang anak juga bisa mengalami kenaikan kadar gula darah yang berdampak kurang baik bagi kesehatan. Para ibu sebaiknya merekomendasikan anaknya untuk lebih memilih jenis karbohidrat kompleks yang lebih rendah kadar glukosanya.

Saat tubuh mengkonsumsi karbohidrat kompleks,  maka proses lonjakan kadar gula dalam darah akan berjalan lebih lambat. Berbeda saat kita mengkonsumsi karbohidrat sederhana yang membuat proses peningkatan kadar gula menjadi sangat cepat dan cepat pula untuk turun.

Jadi kesimpulannya adalah jangan batasi 100 persen anak untuk tidak makan gula sama sekali. Sebagai orang tua harus bisa membatasi asupan gula pada anak, jangan terlalu berlebihan dan juga tidak baik jika kurang.

Artikel Terkait : Kiat Untuk Membentuk Anak Yang Cerdas

 

 

 

Tips Mendidik Anak Agar Nurut Sama Orang Tua Tanpa Memukulnya

sumber gambar : meetdoctor.com

InspirasiBersama.com – Setiap orang tua tentunya menginginkan anaknya nurut. Namun pada kenyataannya bukan hal yang mudah mendidik seorang anak agar bisa nurut dengan perkataan orang tua. Ada yang beranggapan bahwa dengan memukul akan membuat anak menjadi nurut. Namun ada juga yang beranggapan memukul anak bukan cara efektif agar anak menjadi penurut. Mana yang paling benar ?

Dalam sebuah hasil penelitian dan juga sudah dipublikasikan dalam sebuah jurnal yang bernama Family Psychology mengatakan bahwa sebagian besar anak yang mendapatkan perlakukan kekerasan secara fisik akan berdampak kurang baik pada tumbuh kembangnya kelak.

Bahkan dalam sebuah hasil penelitian yang menyebutkan bahwa anak yang masih kecil dan kerap mendapatkan perlakuan kekerasan akan mempengaruhi temperamen anak tersebut dan kondisi ini akan berjalan sampai usia anak remaja.

Dari pada kita memberikan perlakuan keras pada anak agar nurut, berikut beberapa alternatif yang bisa anda lakukan :

1. Paparkan Konsekuensinya
Tips pertama yang harus dilakukan oleh para orang tua adalah dengan membeberkan konsekuensi kepada anak. Misalnya saja ‘kalau si anak nakal, maka mainan kamu akan mama jual’. Jangan suka mengucapkan pada anak ‘kalau kamu nakal, maka mama akan memukulmu ‘. Beberkan konsekuensi pada anak jika melanggar.

2. Konsisten dengan Aturan yang Sudah Dibuat
Tips kedua agar anak menjadi penurut tanpa memukulnya adalah dengan cara konsisten dalam menerapkan aturan yang telah dibuat. Kalau sebelumnya anda membuat aturan jika anak nakal, maka mainan akan dijual. Maka bisa anda akalin anak dengan menyimpan mainan anak tersebut pada tempat yang aman sehingga anak akan melihat konsekuensinya jika melanggar atau nakal.

3. Beri Imbalan Saat Anak Bersikap Baik
Langkah yang ketiga adalah dengan memberikan imbalan jika anak berbuat baik. Ini adalah salah satu motivasi bagi anak agar mau berbuat baik atau nurut dengan perkataan orang tua. Misalnya saja kalau anak nurut, maka orang tua bisa membelikan makanan kecil dsb.

Jadi kesimpulannya adalah jangan beranggapan bahwa dengan menerapkan kekerasan fisik pada anak akan membuatnya jerah atau nurut pada kita. Justru hal ini akan berdampak kurang baik bagi temperamen anak dan mengganggu tumbuh kembang.

Sumber : vemale.com

Artikel Terkait : Beberapa Kesalahan Orang Tua Yang Membuat Anak Nakal

Beberapa Kesalahan Saat Mengompres Anak Saat Sedang Demam

sumber gambar : kompas.com

InspirasiBersama.com – Mendapati anak yang sedang demam pastinya semua orang tua tidak bisa tenang. Anak yang sedang demam akan menyebabkan menjadi mudah rewel, nafsu makan menjadi turun serta susah tidur. Saat anak mereka sedang demam, pasti semua orang tua akan berpikir untuk melakukan kompres guna menurunkan panas anak. Tapi kenyataannya masih banyak kesalahan dalam mengompres yang dilakukan oleh para orang tua.

Kesalahan yang paling sering dilakukan menurut para pakar kesehatan adalah mengompres anak dengan menggunakan air yang dingin. Mungkin kita neranggapan bahwa dengan menggunakan air yang dingin, maka panas akan bisa lebih cepat terserap. Tetapi menurut para pakar kesehatan justru akan membuat panas lebih lama turun. Sebaiknya para orang tua mengompres dengan menggunakan air yang hangat.

Saat kita memberikan kompres air hangat pada anak yang demam, maka akan memberikan sinyal pada pusat panas tubuh bahwa suhu di tubuh atau sekitar anak hangat. Kondisi ini akan membuat perintah pusat panas untuk menurunkan suhunya.

Kesalahan lain saat mengompres anak yang sedang demam adalah menempatkan kompres pada dahi. Padahal menurut para pakar kesehatan lebih menyarankan menempatkan kompres di ketiak dan lipatan paha anak. Kedua lokasi tersebut lebih efektif untuk bisa membantu menurunkan panas pada tubuh anak. Itulah beberapa kesalahan dalam mengompres anak yang sedang demam, semoga bermanfaat.

Sumber : doktersehat.com

Artikel Terkait : Jika Badan Panas Jangan Terburu-buru Minum Obat Panas

Bahaya Anak Yang Sering Kali Mengalami Diare

InspirasiBersama.com – Diare sebenarnya menjadi masalah kesehatan yang kerap melanda anak-anak. Meskipun demikian bukan berarti kita tak perlu waspada saat seorang anak sering kali mengalami diare. Ternyata seorang anak yang kerap mengalami diare berdampak buruk bagi kesehatan terutama kemampuan kognitif otak.

sumber gambar : http://pondokibu.com

Di Indonesia sendiri angka kejadian diare dikalangan anak-anak pada tahun 2013 masih cukup banyak. Rata-rata 1 dari 7 anak bisa mengalami masalah gangguan pencernaan atau diare sebanyak 2 sampai 6 kali dalam setahun. Menurut para pakar kesehatan kondisi ini lebih disebabkan karena masih banyak kalangan orang tua yang kurang faham tentang penyebab serta bagaimana cara menangani anak yang diare.

Secara umum kasus diare yang terjadi pada kalangan anak-anak disebabkan karena adanya infeksi pada saluran pencernaan yang disebabkan oleh virus, bakteri dan parasit. Namun kalau kejadian di Indonesia, rata-rata disebabkan karena rotavirus dan oleh karena intoleransi laktosa.

Saat seorang anak mengalami diare yang disebabkan karena rotavirus, maka akan memicu gangguan produksi beberapa jenis enzim yang mempunyai banyak peranan dalam proses pencernaan dan penyerapan nutrisi. Salah satu jenis enzim yang mengalami masalah adalah enzim laktase yang sangat penting dalam proses pencernaan gula atau laktase dalam tubuh.

Masa kanak-kanak adalah masa perkembangan yang harus diperhatikan. Misalnya saja saat anak sering kali mengalami diare, ternyata menurut para pakar kesehatan bisa berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Kondisi ini ternyata bisa mempengaruhi IQ seorang anak menjadi kurang maksimal. Berdasarkan sebuah data menyebutkan bahwa seorang anak yang sering kali mengalami diare, maka kebanyakan akan mengalami penurunan tinggi badan 3,5 cm dibandingkan dengan teman seusianya pada usia 7 tahun.
Artikel Terkait : Kiat Untuk Membentuk Anak Yang Cerdas

1 2 3 35